"Sobat MuhyuJasri yang baik hati,,, TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI...TULISKAN KOMENTAR SOBAT sebagai bukti telah berkunjung ke blog ini, mohon maaf atas segala kekurangan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat sobat2ku mengambil hikmah didalamnya......"... ^_^

Jumat, 15 Februari 2013

Bualan Kata Sejahtera


Oleh  : Muhammad Yusrizal

Sejahtera...
Semua orang berkata begitu
Seluruh rakyat mendambakan kata itu
Setiap individu menginginkan itu
Buat mereka ada yang menjadi nyata
Banyak dari mereka hanya sebatas mimpi dan angan-angan belaka

Aku bertanya, Dimana letak sejahtera?
Kata mereka ada pada kami yang punya segalanya

Aku bertanya lagi, Bagaimana mendapatkan itu?
Kata mereka itu mudah, semudah membalikkan telapak tangan
Tapi kata tetangga mereka yang lain sangatlah berbeda
Peras keringat di terik mentari, banting tulang didalam belantara
Namun kami belum juga mampu


Terus aku tanya, Mengapa kalian bisa dengan mudah?
Kata mereka, kami punya kuasa, kami punya pengaruh
Kami bisa memerintah kapan saja kami mau, kami bisa dapat kapan saja kami mau
Tapi kata tetangga mereka yang lain, kami hanyalah rakyat kecil
Kami hanya punya setengah tangan, sebelah mata dan sepasang kaki yang kerdil
Walaupun kami berusaha sampai keringat hingga seember penuh
Kami tidk pernah mampu seperti mereka

Sejahtera....
Semua orang berkata begitu
Tapi hanya mereka yang punya segalanya
Hanya mereka yang bisa mendapatkannya dengan mudah
Hanya mereka yang bisa merasakan kenikmatannya
Mereka punya segalanya dari kata sejahtera
Sedangkan sebagian tetangga mereka tidak punya satu huruf pun dari kata itu
Segalanya menjadi mudah oleh mereka yang punya sejahtera
Bagi tetangga mereka, semuanya sangat sulit karena mereka tidak punya

Apalagi yang mereka punya?
Istana  mewah, kuda besi dan emas permata sudah biasa
Menemani setiap jengkal tubuhnya
Singgasana dan peraduan yang empuk
Setiap saat menjadi hamba kepada mereka di siang maupun malam

Tapi, kata tetangga mereka yang lain sangatlah berbeda
Gubuk yang bergoyang bila diterpa angin ini adalah istana kami
Sepasang kaki yang berurat ini adalah kuda kami
Kayu lapuk yang dimakan anai-anai ini adalah singgasana kami
Kapas yang menggumpal dan tikar pandan yang lusuh ini yang jadi bantal dan peraduan kami
Kami tidak ingin meminta apapun dari mereka
Kami hanya ingin berusaha bertahan hidup untuk hari esok
Melihat tingkah-tingkah nakal mereka yang selalu lupa pada dosa
Bahwa suatu saat mereka pasti mati dan meniggalkan segalanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar