"Sobat MuhyuJasri yang baik hati,,, TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI BLOG INI...TULISKAN KOMENTAR SOBAT sebagai bukti telah berkunjung ke blog ini, mohon maaf atas segala kekurangan, mudah-mudahan bermanfaat dan dapat sobat2ku mengambil hikmah didalamnya......"... ^_^

Kamis, 14 Maret 2013

Aku Juga Bisa


(Gejolak benak, batin dan hati)

Oleh  : Muhammad Yusrizal

Saat mereka lepas
Aku masih saja terikat erat
Mencoba lari namun kaki telah kaku membeku
Saat mereka melayang bebas
Aku masih terjepit di karang
Melempar sirip yang tergores penuh luka
Saat mereka terjaga dari tidur yang melelahkan
Aku malah larut dalam buaian mimpi yang tak pasti
Melawan perih mengangkat kelopak mata
Namun aku kembali terjatuh
Mengemis dalam ilusi yang tak pernah mati

Aku ingin seperti mereka
Tertawa lepas penuh ceria
Dalam lingkaran-lingkaran kecil penuh canda
Aku ingin seperti mereka
Bercerita menggapai langit 

Mengambil bintang hati yang berkilau
Aku ingin seperti mereka
Berjuta semangat menggebu
Dalam cita-cita tak pernah layu
Aku ingin seperti mereka
Dilihat ada berdiri dikanan pojok
Memegang selembar kertas
Membaca yang tertulis serabutan
Aku bosan, tolong jangan abaikan aku

Aku bertanya dalam diri palsu ini
Kau seorang yang bodoh?
Batinku menjawab tidak!
Tidak! bagi orang-orang seperti kau
Yang sungguh-sungguh bodoh
Malas membudak otak
Kau seorang yang pemalas?
Benakku menjawab ya!
Ya! bagi mereka yang punya mimpi tanpa ilusi
Dalam angan-angan tersangkut dahan

Aku tertawa dalam teriak
Kau pikir aku bermain dalam otak udang?
Aku juga punya mimpi
Aku juga juga punya cita-cita
Namun semua itu berbeda dengan mereka
Mereka berlari tunggang langgang mengejar bendera
Yang hanya 10 direbut sejuta
Aku memilih berjalan santai walau diurutan buncit
Memanjat tiang tanpa bendera
Tapi aku sampai kepuncak awan
Menatap semua lapangan bola dan atap rumah
Dengan keringat meleleh seember
Pada saat mentari tegak menantang ubun-ubun

Seketika berubah karena ego yang telah jatuh telungkup
Aku terdiam antara rintik-rintik berlinang di bola mata
Seberkas bayang senyum menusuk jarum
Sadarlah, Aku telah banyak bicara dalam bisu
Aku melupakan separuh nyawaku yang tersimpan
Aku melalaikan setengah harapanku yang terpendam
Mimpiku berdiri karena dia dan dia terus ada
Yang selalu hidup seiring denyut nadi dalam darah
Bibir yang tidak pernah lepas memohon dan memohon
Agar tulang punggungnya bisa menjadi panglima
Demi para pajurit polosnya

(pekanbaru, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar